“Baby Brain”
Malam semakin larut di tengah hiruk-pikuknya kesibukan kota Metropolitan Jakarta, kota yang tidak pernah tidur. Kutengok kembali buah hatiku yang sudah terlelap tidur, damai sekali kelihatannya. Nampaknya dia tidak pernah terusik dengan hingar bingarnya Jakarta, kota dengan segala kesibukannya, kemacetannya, banjirnya yang seolah-olah masalahnya tidak akan pernah selesai. Namun Bayi Kami tetap tertidur dengan lelapnya dan terkadang tersungging senyuman di sudut bibirnya.
Kadang kubertanya mimpi apakah dirimu malam ini Anakku? Penuh warnakah sebagaimana mimpi-mimpi Kami, orang-orang dewasa? Terlintas dalam pikiranku atas sebuah acara yang pernah kutonton di TV beberapa saat yang lalu. Saat itu televisiku menayangkan suatu acara “Discovery Channel” yang kutaktahu apa judulnya. Dalam acara itu kulihat banyak sekali ilmuwan-ilmuwan dunia yang tertarik untuk menyelidiki atas rahasia Tuhan, Allah SWT, tentang salah satu ciptaan-Nya yaitu otak bayi.
Selama ini mereka tergelitik untuk mengetahui bagaimana seorang bayi dapat memahami “bahasa Ibu”, mengenali yang manakah orang tuanya? Mengenali orang-orang yang dekat dengannya, dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Untuk itu mereka mengadakan serangkain penelitian terhadap bayi-bayi, dari yang berumur 1 bulan sampai 6 bulan. Dalam penelitian itu ditempatkan berbagai macam sensor untuk merekam segala perubahan yang terjadi.
Dalam salah satu test yang dilakukan, mereka memberikan gambar yang berbeda-beda pada beberapa bayi yang memiliki usia 1 bulan sampai dengan 3 bulan. Gambar-gambar itu cukup beragam dari foto-foto manusia sampai dengan kera dari berbagai jenis. Dari beberapa test yang dilakukan, mereka mengambil kesimpulan bahwa di usia 1 bulan, hampir semua bayi bisa membedakan gambar kera yang satu dengan yang lainnya. Namun kemampuan ini menjadi berkurang bahkan hilang di usia mereka yang beranjak ke 3 bulan. Namun kemampuan mereka untuk membedakan foto-foto manusia semakin meningkat di usia 3 bulan tersebut.
Dalam test yang lain, didapatkan bahwa hampir semua bayi yang berusia 1 bulan dapat memahami dan mengerti bahasa manusia yang ada di dunia ini, dari bahasa Ibu mereka, sampai beberapa bahasa asing. Namun kemampuan untuk ini semakin berkurang ketika umur mereka bertambah.
Dari berbagai macam test yang dilakukan, para ahli menyimpulkan bahwa dengan semakin bertambahnya usia, kemampuan universal yang dimiliki oleh manusia menjadi berkurang dan dia semakin terbentuk menjadi manusia specialist.
Hal ini sesuai dengan hipotesis yang telah ada bahwa sebenarnya setiap bayi yang dilahirkan di dunia ini memiliki bermilyar-milyar sambungan otak dimana masing-masing membawa suatu keahlian tertentu. Keahlian tersebut akan menghilang atau lebih tepatnya mengendap di bagian terbawah otak karena jarang dipergunakan. Sedangkan keahlian yang sering dipergunakan akan semakin terasah dan tersambung.
Dengan teori ini pulalah seorang bayi di luar negeri yang telah diagnosis memiliki kerusakan sel otak cukup parah, maka pengobatan yang dilakukan adalah dengan pengobatan ekstrim, dimana separuh otak yang rusak tersebut diambil dan dibiarkan sel-sel tubuh yang tersisa untuk memperbaikinya. Tentunya tindakan ini penuh dengan resiko, namun dengan keyakinan yang tinggi dan dukungan orang tua si bayi, maka bayi tersebut sekarang telah tumbuh menjadi anak dewasa sebagaimana teman-temannya. Dari foto scan yang diambil terlihat bahwa sisa otak yang baik mengembangkan dirinya untuk mengisi kekosongan yang ada. Hal ini senada pula dengan prinsip keselarasan dalam dunia ini. Kalau ada Yin pasti ada Yang, ada Pagi pasti ada Malam, ada Terang pasti ada Gelap. Itulah hokum kekekalan abadi dari Tuhan, Allah SWT.
Dari penelitian ini maka bisa didapatkan bahwa setiap bayi itu terlahir dengan fitrah atau suci. Dia tidak pernah membawa kutukan, dosa, ataupun penyakit dari orang tuanya. Sebagaimana telah tersurat dalam satu firman Allah SWT dalam kitab suci-Nya, Al-Qur’an, bahwa “Setiap anak Adam dilahirkan dengan kesucian. Orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Muslim/Muslimah ataupun yang lainnya”.
Otak bayipun dapat diibaratkan selayaknya suatu HardDisk kosong dalam suatu computer yang baru saja dipasang. Mau dipasang operating system Microsoft Windows, Apple Macintosh, Linux ataupun Unix sekalipun dia tidak akan menolak. Saya juga jadi teringat pengalaman teman yang sekarang tinggal di salah satu negara Eropa Timur, Polandia. Dia bercerita bahwa anaknya yang masih kecil dengan mudahnya bermain-main dan memahami Bahasa Polandia yang tidak cukup mudah dipahami oleh Ibunya. Dengan mempergunakan teori diatas, maka sebenarnya sel otak si anak dengan cepat menampilkan kembali keahliannya untuk berbahasa Polandia, karena kemampuan itu belumlah terbenam lama dalam otaknya. Akhirnya tidak henti-hentinya kitab suciku, Al-Qur’anul Karim berulang-ulang mengingatkan kita dengan salah satu ayatnya yang selalu teringang-ingang di telingaku “Afala Ta’qilun” Yang arti harfiahnya adalah “Wahai Manusia, apakah Kamu sekalian tidak berpikir?” Ayat ini sering diulang ketika Allah SWT Sang Pencipta yang Maha Kasih membeberkan semua ciptaan-Nya pada kita umat manusia ini. Apakah kita sudah menjawab pertanyaan-Nya dengan tindakan nyata? Adakah kita melakukan penelitian yang menyeluruh atas ciptaan-Nya?
Wallahualam Bissawab..
-Dian-
Penghujung Maret 2008 yang indah…
lina @ April 1, 2008


Lina or SH,
Terima kasih ya udah nambahin gambarnya sehingga jadi lebih menarik.
Regards,
-Dian- or -Naid-