Main Contents

Kenali Gejala Alergi Susu Sapi Sejak Dini

Artikel, Balita

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kita mungkin sering mendengar istilah lactose intolerant yaitu keadaan dimana tubuh tidak mampu mencerna laktosa dari susu. Sebenarnya ada gangguan lain yang juga disebabkan oleh konsumsi susu namun belum banyak di mengerti oleh orang awam yaitu alergi terhadap protein susu sapi.

Alergi terhadap protein susu sapi atau susu formula yang mengandung protein susu sapi merupakan suatu keadaan dimana bayi (bisa juga terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa) memiliki sistem reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul.
Perlu diketahui, sekitar 1-7% bayi pada umumnya menderita alergi terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sedangkan sekitar 80% susu formula bayi yang beredar di pasaran ternyata menggunakan bahan dasar susu sapi, demikian menurut sumber infosehat.
Hingga kini, belum banyak diketahui tentang penyebab terjadinya alergi susu sapi dan mengapa ada kelompok bayi yang mengalaminya tetapi ada pula yang tidak. Namun, penelitian terakhir menunjukkan bahwa bayi yang diberikan ASI eksklusif memiliki risiko lebih kecil untuk mengalami alergi dibandingkan bayi yang tak diberikan susu sapi atau susu formula. Selain itu, diduga bahwa alergi dapat disebabkan oleh faktor yang diturunkan secara genetik dari orang tua kepada si bayi. Atau juga sistem pencernaan bayi untuk mengenal protein susu sapi sebagai makanan pertama yang dikonsumsinya.

Gejala alergi terhadap protein susu sapi biasanya dapat diketahui ketika bayi berumur 6 bulan. Bayi akan menunjukkan gejala reaksi alergi, baik gejala yang cepat maupun lambat. Gejala reaksi alergi yang cepat dapat berupa muntah-muntah dan reaksi anaphylaxis (yaitu reaksi tubuh akibat alergi terhadap sesuatu yang terjadi secara mendadak), angiodema (yaitu terkumpulnya cairan dalam jaringan tubuh yang menyebabkan terjadinya bengkak) dan gatal-gatal pada kulit. Gejala reaksi yang lambat merupakan gejala reaksi alergi yang seringkali terjadi. Gejala tersebut dapat berupa kurang darah, muntah, iritasi, sakit perut dan pertumbuhan serta berat tubuh yang tidak normal.

Gejala reaksi alergi terkadang sulit untuk didiagnosa karena gejalanya sama dengan gejala penyakit lainnya selain alergi. Umumnya bayi atau anak-anak akan mengalami reaksi tersebut hingga mereka berusia dua tahun dan biasanya berangsur-angsur akan menghilang. Namun demikian, jika bayi anda mengalami gejala reaksi alergi terhadap susu sapi sebaiknya segera diperiksakan ke dokter anak agar anda dapat memperoleh hasil diagnosa yang spesifik, tepat, dan benar.

PENCEGAHAN ALERGI SUSU SAPI

Pencegahan terjadinya alergi susu sapi harus dilakukan sejak dini. Hal ini terjadi saat sebelum timbul sensitisasi terhadap protein susu sapi, yaitu sejak intrauterin. Penghindaran harus dilakukan dengan pemberian susu sapi hipoalergenik yaitu susu sapi yang dihidrolisis parsial untuk merangsang timbulnya toleransi susu sapi di kemudian hari. Bila sudah terjadi sensitisasi terhadap protein susu sapi atau sudah terjadi manifestasi penyakit alergi, maka harus diberikan susu sapi yang dihidrolisis sempurna atau pengganti susu sapi misalnya susu kacang kedele.

Alergi susu sapi yang sering timbul dapat memudahkan terjadinya alergi makanan lain di kemudian hari bila sudah terjadi kerusakan saluran cerna yang menetap. Pencegahan dan penanganan yang baik dan berkesinambungan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya alergi makanan yang lebih berta dikemudian hari..Tindakan pencegahan alergi susu sapi juga hampir sama seperti yang dilakukan pada alergi lainnya. Secara umum tindakan pencegahan alergi susu sapi dilakukan dalam 3 tahap yaitu:

Pencegahan primer

Dilakukan sebelum terjadi sensitisasi. Saat penghindaran dilakukan sejak pranatal pada janin dari keluarga yang mempunyai bakat atopik. Penghindaran susu sapi berupa pemberian susu sapi hipoalergenik, yaitu susu sapi yang dihidrolisis secara parsial, supaya dapat merangsang timbulnya toleransi susu sapi di kemudian hari karena masihmengandung sedikit partikel susu sapi, misalnya dengan merangsang timbulnya IgG blocking agent. Tindakan pencegahan ini juga dilakukan terhadap makanan penyebab alergi lain serta penghindaran asap rokok. Meskipun demikian AAAI hanya merekomendasikan penghondaran [pemberian kacang-kacangan selama kehamilan.

Pencegahan sekunder

Dilakukan setelah terjadi sensitisasi tetapi belum timbul manifestasi penyakit alergi. Keadaan sensitisasi diketahui dengan cara pemeriksaan IgE spesifik dalam serum atau darah talipusat, atau dengan uji kulit. Saat tindakan yang optimal adalah usia 0 sampai 3 tahun. Penghindaran susu sapi dengan cara pemberian susu sapi non alergenik, yaitu susu sapi yang dihidrolisis sempurna, atau pengganti susu sapi misalnya susu kedele supaya tidak terjadi sensitisasi lebih lanjut hingga terjadi manifestasi penyakit alergi..
Pemberian ASI ekslusif terbukti dapat mengurangi resiko alergi, tetapi harus diperhatikan diet ibu saat menyusui Selain itu juga disertai tindakan lain misalnya pemberian imunomodulator, Th1-immunoajuvants, probiotik. Tindakan ini bertujuan mengurangi dominasi sel limfosit Th2, diharapkan dapat terjadi dalam waktu 6 bulan.

Pencegahan tersier

Dilakukan pada anak yang sudah mengalami sensitisasi dan menunjukkan manifestasi penyakit alergi yang masih dini misalnya dermatitis atopik atau rinitis tetapi belum menunjukkan gejala alergi yang lebih berat seperti asma. Saat tindakan yang optimal adalah pada usia 6 bulan sampai 4 tahun.

Penghindaran juga dengan pemberian susu sapi yang dihidrolisis sempurna atau pengganti susu sapi. Pemberian obat pencegahan seperti setirizin, imunoterapi, imunomodulator tidak direkomendasikan karena secara klinis belum terbukti bermanfaat.

lina @ March 27, 2008

Leave a comment

*
To prove that you're not a bot, enter this code
Anti-Spam Image


Feed