Main Contents

Rubella dan Kehamilan

Artikel, Kehamilan

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 0 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sebuah tinjauan medis dan pengalaman pribadi……..

Medio Maret 2008

Rubella atau yang lebih dikenal dengan istilah popular Campak Jerman pada dasarnya adalah penyakit dengan tingkat kekritisan sedang (“mild illness”). Namun penyakit ini bisa sangat berbahaya bagi para Ibu yang sedang hamil karena ini bisa berakibat fatal pada janin yang sedang dikandungnya.

Pada umumnya sebelum pasangan merencanakan untuk ‘hamil’, dianjurkan untuk melakukan test TORCH, dimana salah satu yang ditest adalah memastikan bahwa pasangan yang bersangkutan telah memiliki kekebalan terhadapa Rubella. Namun jikalau itu semua sudah dilakukan dan ternyata dalam perjalanan waktu, Rubella masih tetap menemani Anda dan janin, apa yang musti dilakukan??

Sebelum berlanjut mari kita mengenal lebih lanjut “teman akrab” kita ini. Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh “Rubella Virus”. Biasanya hal ini terjadi pada anak-anak namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada siapapun dan dia bukan termasuk golongan penyakit yang mengakibatkan kematian. Namun jika ini menghinggapi Ibu Hamil akan bisa mengakibatkan akibat yang cukup fatal pada janin, diantaranya adalah kekurangan pendengaran, kerusakan pada otak, kerusakan pada hati dan juga katarak. Semua ini dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “congenital rubella syndrome” dan ini didapat oleh janin melalui plasenta. Selain itu, Rubella juga bisa ditularkan melalui media batuk dan pilek.

Oleh karena itu amat sangat dianjurkan untuk melakukan test rubella terlebih dahulu sebelum mulai untuk merencanakan kehamilan. Walaupun hampir sebagian besar dari kita sudah mendapatkan vaksinasi Rubella di sekolah, tetap disarankan untuk melakukan proses vaksinasi Rubella ini ketika pasangan merencanakan untuk mendapatkan keturunan.

Gejala-gejala Rubella pada dasarnya hampir sama dengan campak biasa yang telah dikenal dengan ciri-ciri panas tinggi, pusing kepala, sakit yang berkesinambungan dan tenggorokan kering. Selain itu biasanya juga disertai dengan timbulnya bercak-bercak merah layaknya gejala DBD – Demam Berdarah Dengue.

Trimester Pertama (Minggu pertama – 13)

Sebagaimana yang sudah diselidiki oleh para ahli, jika Ibu Hamil mendapatkan Rubella pada masa ini maka besar kemungkinan akan berakibat fatal (± 90%) pada janin. Semakin awal usia kehamilan, maka semakin besar resiko hal ini akan tertular pada janin.

Sesudah minggu kesepuluh, resiko cacat fisik dan non-fisik pada janin juga berkurang namun masih dimungkinkan terjadinya cacat non-fisik berupa kurang berfungsinya pendengaran ataupun penglihatan pada bayi yang kemungkinan baru bisa disembuhkan ketika mereka beranjak dewasa. Pada masa-masa ini bisa jadi para dokter kandungan merekomendasikan untuk menggugurkan kandungan kita demi untuk kebaikan semuanya.

Trimester Kedua (Minggu 14 – 26)

Pada minggu ke-14 dan ke-15 pada umumnya resiko hal ini tertular ke janin juga semakin kecil. Namun masih dimungkinkan terjadi cacat pada pendengaran dan penglihatan.

Trimester Ketiga (Minggu 27 – kelahiran)

Setelah minggu ke-16 resiko cacat pada janin boleh dibilang sudah hampir tidak ada. Oleh karena itu sangat disarankan kepada para Ibu Hamil untuk menghindari orang yang sedang terkena Rubella khususnya pada trimester pertama.

Ketika Rubella tetap datang….

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, untuk Ibu yang sedang hamil dan jikalau semua tindakan pencegahan telah dilakukan, namun karena satu dan lain sebab ternyata teman akrab kita, Rubella, masih menghampiri maka perlu dilakukan beberapa hal berikut ini:

Janganlah panik, tetaplah berpikir tenang dan jernih. Saat ini hampir semua penyakit sudah ditemukan obatnya dan sesuai janji Allah SWT, tidak akan Aku (Allah) berikan cobaan yang kita, hamba-Nya tidak mampu mengatasi, maka yakinlah bahwa semua itu bisa diatasi.

Sebagaimana telah disampaikan, jika rubella menghampiri pada minggu 1 – 13, maka resiko terjadi cacat fisik dan non-fisik sangatlah besar dan hampir semua dokter kandungan sepakat untuk merekomendasikan pengguguran. Namun ini bukan vonis yang harus dituruti karena itu semua kembali ke Ibu itu sendiri apakah akan tetap mempertahankan kandungannya ataupun menggugurkannya. Tentunya disarankan untuk berkonsultasi dengan ahlinya sehingga sang Ibu telah siap dengan semua kondisi yang akan terjadi.

Jika teman akrab kita datang pada minggu ke–14 maka resiko terjadinya cacat fisik dan non-fisik menjadi 50%:50%. Dimana artinya bisa jadi janin tidak mengalami cacat fisik namun ketika dilahirkan mereka mendapatkan cacat non-fisik.

Pengalaman penulis pribadi mengatakan bahwa dengan proses perawatan yang baik dari ahlinya maka resiko untuk terjadinya kedua cacat ini dapat dihindari dan dengan Rahmat-Nya kedua cacat itu bisa ditiadakan.

Kami mendapati vonis Rubella ini ketika kandungan Istri memasuki bulan ke–4 atau minggu ke–16. Saat itu dua dokter kandungan dan dokter speasialis yang Kami minta pendapatnya, mereka sepakat untuk merekomendasikan pengguguran saja karena dikhawatirkan akan terjadi cacat fisik semisal, jari tangan bayi tidak lengkap, lengan tidak tumbuh sempurna bahkan sampai cacat non-fisik seperti kekurangan pendengaran dan penglihatan.

Namun dari diskusi dengan beberapa rekan, Kami disarankan untuk mendatangi Laboratorium Makmal Immunoendokrinologi FKUI di Salemba dan bertemu dengan “Dokter Ahli Virus Indonesia”, dr. Santoso Cornain. Akhirnya Kami dapat menemukan Lab Makmal tersebut dan diminta untuk melakukan test darah lengkap di Lab tersebut. Berbekal dari hasil test tersebut disuatu sore di tahun 2003 Kami mengantri. Ketika menunggu giliran, Kami amati bahwa waktu kunjungan antara pasien yang satu dengan yang lain rata-rata minimal satu jam, waow lama sekali. Akhirnya setelah terkantuk-kantuk dan jam tangan sudah menunjukkan pukul 00:00 WIB akhirnya tiba juga giliran Kami.

Ketika Kami masuk, dokter yang menemui Kami terlihat memang sudah berpengalaman dan beliau dengan telatennya menanyakan bagaimana ceritanya Kami bisa berteman dengan Rubella dan akhirnya tiba di ruang prakteknya beliau. Kemudian dari hasil test tersebut yang beliau lakukan pertama kali adalah membesarkan hati istri, dan jauh hari baru beliau menyampaikan ke penulis, bahwa ini dilakukan karena beliau melihat bahwa istri terlihat lebih khawatir daripada penulis. Padahal penulis juga memiliki kekhawatiran yang sama namun jauh di lubuk hati penulis berkeyakinan bahwa Insyaallah dengan bantuan-Nya Kami akan mampu menghadapi cobaan ini.

Kemudian beliau beranjak untuk menjelaskan bagaimana resiko pada bayi jika seorang Ibu hamil mendapati Rubella dalam dirinya. Dimana dari hasil gambaran beliau ternyata pada stadium yang Kami alami peluangnya adalah 50:50, namun dengan usaha yang keras dari ilmu yang beliau punya dan tawakkal kepada-Nya beliau yakin bahwa kandungan Kami akan dapat diselamatkan. Akhirnya Kamipun menjadi pasien rutin beliau dan dari bulan ke bulan Kami amati bahwa apa yang beliau sampaikan benar adanya, namun itu tidak menjadikan Kami tidak memiliki kekhawatiran sama sekali karena masih ada kemungkinan resiko.

Menjelang waktu kelahiran Kami juga disarankan untuk melakukan USG tiga dimensi di salah satu RSIA di daerah belakang Sarinah, Jakarta Pusat. Tujuannya adalah memastikan bahwa tidak terjadi cacat fisik, kalaupun ada diharapkan kita sebagai orang tuanya siap untuk menghadapinya. Alhamdulillah dari USG didapatkan bahwa semuanya normal dan tidak terlihat adanya cacat fisik. Namun, kekhawatiran Kami masih juga belum hilang dikarenakan masih dimungkinkan adanya cacat non-fisik yang baru bisa dipastikan ketika bayi sudah dilahirkan.

Akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu itupun tiba, dan seorang bayi lelaki yang sehat lahir ke dunia menjelang pergantian hari di tanggal 24 Maret 2004. Pertama-tama yang Kami pastikan bahwa semua organ tubuhnya lengkap dan tiada cacat sedikitpun, dan Alhamdulillah dengan kuasa-Nya bayi Kami tidak memiliki kekurangan apapun. Ketika proses kelahiran tersebut, atas saran dr. Santoso juga, Kami juga mengambil darah tali pusar untuk dilakukan test apakah imun Rubella yang dimiliki bayi yang diturunkan dari Ibu akan luruh dan hilang dengan sendirinya.

Berikutnya yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa bayi tersebut tidak memiliki cacat non-fisik dari pendengaran ataupun penglihatan. Dari test sederhana dengan menepukkan kedua tangan pada posisi yang berbeda bisa dilihat apakah bayi mengikuti arah tepukan tangan atau tidak, bisa dipastikan bahwa dia tidak memiliki cacat bawaan. Dari hasil test sederhana tersebut, didapatkan bahwa dia tidak memiliki cacat tersebut, namun untuk memastikannya Kami pergi ke dokter ahli lain sebagaimana yang disarankan oleh dr. Santoso, dan hasil testnya menyatakan bahwa Alhamdulillah tidak terjadi hal-hal yang diiinginkan. Dan hingga detik ini bayi Kami telah tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar.

sumber : M. Misdianto (Maret 2008)

lina @ March 25, 2008

Leave a comment

*
To prove that you're not a bot, enter this code
Anti-Spam Image


Feed