Main Contents

Rutinitas Anak Yang Bermanfaat

Artikel, Balita

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 0.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

baby2.jpgbaby1.jpg

Ada yang bilang anak batita adalah manusia paling pembosan. Sebentar ingin melukis, sebentar kemudian ingin main pasir. Ih, bikin berantakan saja. Memang begitulah kalau dalam keseharian kegiatan batita tidak diarahkan dan tanpa batas waktu. Contohnya begini, sehari-hari orang tua memperkenankan si kecil bermain apa saja, entah itu mobil-mobilan, main air, masak-masakan, lari-larian, atau yang lainnya tanpa batas waktu. Selain rumah jadi tidak karuan, ternyata tindakan ini mengurangi manfaat yang bisa dipetik dari aktivitas bermain tadi. Gara-garanya, si kecil bosan main tanpa pengarahan, terlalu letih, dan mungkin juga haus serta lapar yang membuatnya merasa tak nyaman.

Jadi apa yang mesti dilakukan orang tua? Kedengarannya memang sedikit “kejam” tapi sebenarnya sangat efektif, yaitu jangan memberi keleluasaan penuh kepada anak. Lebih baik, susunlah bentuk kegiatannya sehari-hari. Di usia batita, daya ingat anak sudah semakin baik. Jadi kalaupun kita menyusun suatu rutinitas, ia sudah dapat melaksanakannya secara optimal. Bahkan Mira yakin, dengan begitu anak akan lebih bergembira dalam melakukan aktivitasnya.

Jangan bayangkan, kegiatan si batita harus disusun dengan terperinci dan ditaati secara kaku. Meski perlu intervensi dari kita, si kecil tidak boleh sampai merasa terkekang oleh jadwal kegiatannya. Prinsipnya, apa saja bentuk aktivitas yang dirancang baginya dan berapa lama waktunya harus bisa menjunjung kebebasan si kecil.

Jadwal kegiatan batita juga akan lebih efektif jika disesuaikan dengan kebiasaan yang sudah ditampilkan si kecil sebelumnya. Kebiasaan ini merupakan salah satu keunikan yang terdapat pada setiap anak. Tentunya orang tua tetap perlu mengarahkannya ke rutinitas yang positif tanpa mengurangi kebebasan anak dalam memilih.

Intinya, jangan menetapkan sesuatu yang akan sulit diterapkan. “Anak batita masih sulit beradaptasi dengan hal-hal yang sama sekali baru baginya. Jadi, kalau mau menerapkan jadwal rutinitasnya, perhatikan juga kondisi dan situasi anak,” anjur Mira D. Amir, Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan (LPT) UI, Jakarta.

  • Aktivitas pagi : Dimulai dari bangun pagi. Biasanya kebiasaan bangun pagi sudah terlihat sejak bayi; apakah si kecil terbiasa bangun jam lima, jam enam atau jam tujuh, kita tinggal mengikuti saja. Lalu susunlah “acara berikutnya” yang menurut kita akan bermanfaat bagi anak. Contohnya, setelah bangun pagi ada beberapa kegiatan seperti mandi, minum susu, olahraga bersama, lalu sarapan.
  • Bermain di pagi hari : Mumpung si kecil masih dalam kondisi fresh, isilah waktu di pagi hari dengan melakukan permainan yang sifatnya kreatif dan edukatif, seperti menyusun pasel, bongkar pasang balok, menggambar atau mewarnai, dan bermain peran. Jangan lupa si kecil mesti didampingi agar terpantau dengan baik. Lama bermain sekitar 2-3 jam. Setelah itu biasanya ia sudah bosan dan letih sehingga bila dipaksakan tak mustahil malah rewel. Variasikan permainannya dari hari ke hari. Senin main pasel, bongkar pasang balok, dan main gelembung sabun; Selasa menggambar/mewarnai, main lilin, dan main gelembung sabun; Rabu main balok, main pasir, petak umpet; dan seterusnya. Keberagaman tersebut, selain dapat membuat anak jadi tidak merasa bosan, juga membuatnya terbiasa fleksibel dengan berbagai aktivitas. Yang perlu diingat orang tua, rutinitas itu bukan harga mati. Kalau umpamanya di hari Rabu anak enggan main balok, ya ganti saja dengan permainan yang diinginkannya. Yang penting kegiatan ini dapat merangsang kreativitas, konsentrasi, dan kemampuan berpikirnya. Beberapa batita mengisi jadwal pagi harinya dengan “bersekolah” di taman bermain. Ini boleh-boleh saja karena umumnya playgroup sudah dikelola dengan baik sehingga susunan kegiatan dan rentang waktunya tinggal diikuti saja.
  • Tidur Siang : Yang pasti tidak ada patokan jam berapa anak harus tidur siang. Untuk anak yang terbiasa bangun saat matahari sudah bersinar terang, waktu tidur siangnya pasti agak mundur ketimbang anak yang bangun lebih pagi. Jadi sesuaikan saja dengan situasi dan kondisi saat itu. Jika si kecil sudah terlihat lelah pada pukul 11 misalnya, tawari untuk beristirahat. Namun bila masih tampak segar, tak harus memaksanya tidur. Saat masuk kamar, pastikan ia benar-benar dapat tidur nyenyak mengingat tidur merupakan istirahat yang paling baik. Jangan sampai ia hanya pindah tempat bermain saja; dari ruang keluarga ke kamar tidur, lalu di atas ranjang ia meneruskan permainannya. Bila anak Anda termasuk yang sulit tidur siang, lakukan trik dengan menciptakan “ritual khusus” sebelum tidur. Misalnya, izinkan anak bermain ringan sebentar di atas ranjangnya (bukan permainan yang banyak melibatkan aktivitas fisik). Tujuannya agar ia terbawa dalam suasana istirahat. Supaya matanya lebih cepat mengantuk, ceritakan sebuah dongeng atau senandungkan nada-nada lembut di telinganya. Kalau belum terbiasa, awalnya memang tak mudah. Namun jika rutinitasnya ini sudah dikenalkan berkali-kali secara konsisten, lambat laun jadwal tidur pun akan melekat padanya. Lamanya tidur siang antara satu sampai dua jam. Rentang waktu ini cukup membuat anak segar kembali. Sebaiknya tidur siang tidak terlalu lama atau tidak lebih dari 3 jam, karena akan membuat anak lemas sehingga aktivitas selanjutnya malah terganggu.
  • Bermain di sore hari : Bermain di sore hari sebaiknya dibedakan dari bermain di pagi hari. Bila di pagi hari sifatnya kreatif dan edukatif, maka sore hari lebih diarahkan pada stimulasi fisik, sosial, dan kepekaannya pada alam. Ajak anak bermain bersama anak-anak sebayanya di sekitar rumah. Area bermain yang disarankan adalah halaman rumah atau taman-taman yang ada di kompleks. Dengan begitu, aktivitas bersama ini dapat membawa manfaat sosialisasi baginya selain ia jadi kenal lingkungan alam sekitar rumahnya. Hal ini tentu akan membuat anak mendapatkan pendidikan yang lebih beragam.
  • Aktivitas di malam hari : Lakukan kegiatan yang ringan-ringan saja jika si kecil mungkin sudah lelah tapi belum mengantuk dan belum mau tidur. Contoh aktivitas ringan yang bermanfaat adalah mengobrol santai dengan anak tentang apa pun, termasuk aktivitasnya selama sehari itu. Kegiatan ini cocok bagi orang tua yang siang hari bekerja, sehingga malam harinya perlu memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bercengkrama bersama anak. Idealnya anak sudah berangkat tidur pada pukul tujuh atau delapan malam. Kalaupun si batita masih betah melek, toleransi waktu bisa diberikan hingga pukul sembilan malam atau kalau memang sangat tidak mungkin pukul sepuluh malam. Agar bisa tidur anak butuh kenyamanan. Pastikan ia tak haus dan lapar, setelah itu antar ia tidur dengan dongeng yang menyenangkan.
  • Bepergian : Acara jalan-jalan sebaiknya dilakukan bersama kedua orang tua di hari libur; entah ke mal, restoran, taman hiburan, rumah nenek, saudara, atau yang lainnya. Anak batita mulai menantikan-nantikan acara ini dan selalu bergembira saat tahu akan datang hari libur. Kondisi seperti ini sangat baik untuk perkembangan fisik maupun mentalnya yang akan memengaruhi pertumbuhannya secara keseluruhan. Yang perlu diperhatikan saat bepergian adalah lama di perjalanan, lama di lokasi, dan suasana di sana. Waktu di perjalanan sebaiknya tidak lebih dari 20 menit. Lebih dari itu anak akan bosan dan cenderung jadi rewel. Bila perjalanan yang akan ditempuh makan waktu cukup lama, persiapkan segala kebutuhannya seperti susu, pakaian ganti, makanan, CD atau kaset, dan mainan yang kira-kira mengurangi kebosanan selama perjalanan. Lama waktu di lokasi tujuan tergantung pada suasana. Bila anak-anak tidak menikmatinya, misalnya diajak ke acara arisan keluarga yang tidak banyak anak kecilnya, maka sikap manisnya tidak akan bertahan lama. Paling-paling hanya 1-2 jam saja. Selebihnya dia akan bosan dan letih sehingga muncul perilaku negatifnya. Lain hal bila lokasi tujuan sangat mengasyikkan, seperti taman bermain, taman hiburan, pantai, kolam renang, atau sejenisnya. Daya tahannya bisa lebih lama, sekitar 2-3 jam. Bila memang si batita sudah letih, ajaklah ia beristirahat atau kembali ke rumah agar rasa letih tidak menghilangkan kegembiraannya.
  • Nonton Teve :Berdasarkan jurnal ilmiah yang dikeluarkan American Academy of Pediatrics (AAP), sejenis asosiasi dokter anak di Amerika, hingga usia 2 tahun anak tidak dianjurkan untuk menonton teve. Pasalnya, teve bisa berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan otaknya. Selain itu, tentunya daya kreativitas anak jadi tidak tumbuh optimal karena terbiasa dengan kepasifan saat menonton. Ini belum menyangkut soal sosialisasinya. Bukankah anak lebih baik berinteraksi dengan orang lain ketimbang nonton teve seharian di rumah? Nah, anak yang sudah berusia 2 tahun ke atas, menurut AAP sudah boleh nonton teve asalkan tidak lebih dari 2 jam dalam sehari. Acara yang ditonton pun harus acara khusus anak-anak yang edukatif serta tidak mengandung kekerasan. Setiap kali menonton, anak harus selalu didampingi orang tua atau orang dewasa lainnya karena ia belum bisa membedakan mana dunia khayal dan mana kenyataan. Ketika menyaksikan film sendirian, bisa-bisa ia meniru-niru aksi terbang Superman, misalnya, dengan cara yang membahayakan dirinya.

EKSPLORASI DI RUMAH

Si kecil yang berusia 18-21 bulan, sangat senang melakukan eksplorasi di rumah. Salah satunya eksplorasi lemari pakaian. Tentu saja, pilih lemari yang memiliki rak tidak terlalu tinggi sehingga dapat dicapai si kecil. Biarkan ia mengobrak-abrik pakaian yang ada demi melampiaskan kegemarannya memasukan dan mengeluarkan barang. Kegiatan ini tetap harus dipantau terus apalagi jika lemarinya berbentuk laci. Si kecil bisa saja menariknya terlalu keras lalu tertimpa laci.

Alternatif permainan lain adalah meletakkan beberapa mainannya di bawah kursi/sofa. Posisikan barang-barang tersebut sedemikian rupa sehingga sulit dijangkau si kecil. Lalu coba letakkan mainan/benda yang memiliki tangkai panjang di sekitarnya Lihatlah apa yang akan dilakukan si kecil? Mungkin saja dia akan menggunakan mainan bertangkai itu untuk mengambil mainan lain yang ada di bawah kursi. Jikapun itu tidak dilakukannya, tunjukkan bagaimana cara mengambil mainan-mainan tersebut kemudian berikan kesempatan kepada anak untuk melakukannya.

Ia juga bisa diajak mengamati foto keluarga yang dipasang di dinding atau yang ada di album. Minta si kecil menunjukkan yang mana dirinya, kakak, ibu, atau ayahnya. Aktivitas seperti ini umumnya sangat digemari batita sampai-sampai ia minta melakukannya berulang kali. Jangan lupa, jelaskan aktivitas yang terlihat dalam foto. “Wah, lihat Adek sedang mandi ya!”

Irfan, dari buku Helping Babies Learn

EKSPLORASI DI TAMAN

Di usia 24-27 bulan, si batita sudah mampu mengamati situasi. Lantaran itu, akan sangat menyenangkan jika ia diajak bepergian, ke taman. Anak pun sudah memiliki kontrol yang baik saat berjalan atau berlari serta menghindar bila ada sesuatu yang membahayakan dirinya. Tak perlu terlalu khawatir jika ia banyak beraktivitas fisik di sana. Tawari permainan-permainan yang menarik, seperti melempar dan menangkap bola.

Bila tersedia fasilitas bak pasir, tentu akan lebih menyenangkan baginya. Tak perlu takut ia menjadi kotor, karena manfaat main pasir justru akan lebih besar didapat. Biarkan ia membentuk pasir dengan imajinasinya; entah menggambar lingkaran, garis, dan kotak dengan jarinya, atau membentuk telur dari pasir basah. Jangan lupa, kita harus tahu kapan anak harus berhenti. Jangan sampai anak terlalu letih sehingga malah membuatnya jadi rewel saat kembali dari taman bermain.

sumber : Nakita-Panduan Tumbuh Kembang Balita

lina @ November 12, 2007

Leave a comment

*
To prove that you're not a bot, enter this code
Anti-Spam Image


Feed