Main Contents

Biang Keringat

Artikel, Bayi

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.5 out of 5)
Loading ... Loading ...

baby2.jpg

PENINGKATAN suhu udara dan polusi yang hebat bisa mengakibatkan gangguan kesehatan, di antaranya biang keringat (Miliaria rubra). Gangguan pada kulit ini cukup akrab dengan anak, balita, maupun bayi yang kondisi kulitnya masih sangat peka terhadap pengaruh lingkungan.

Ketika suhu udara sangat panas, biang keringat ini akan terasa gatal, sehingga merangsang penderita untuk menggaruknya kuat-kuat. Namun bahayanya, jika tempat yang gatal itu digaruk, akan menimbulkan iritasi dan luka. Jika anak dilarang menggaruk, mungkin ia menjadi sangat rewel.

Iklim tropis seperti di Indonesia memang mudah memicu terjadinya biang keringat. Akan tetapi, nyatanya bayi-bayi di daratan Amerika maupun Eropa yang juga tidak kebal terhadap gangguan kulit yang satu ini. Kalau begitu, berarti udara panas bukan satu-satunya pemicu. Lalu, adakah penyebab lainnya?

KERINGAT TERSUMBAT

Penyebab biang keringat adalah terjadinya penyumbatan pada pori-pori kulit. Padahal, pori-pori ini merupakan saluran keluar dari kelenjar keringat. Itu sebabnya, penyakit ini kadang-kadang juga disebut keringat buntet, alias keringat mampet.

Butiran-butiran keringat yang tersumbat itu akan mendesak kulit tempat bermuaranya saluran keringat. Akibatnya, timbul lepuh-lepuh halus yang besarnya tak lebih dari jerawat. Lepuh-lepuh tersebut berisi keringat yang dapat menimbulkan bintik-bintik merah.

Biang keringat terasa sangat gatal dan menyengat kulit. Punggung, dahi, leher, bahu, dada, lipatan-lipatan kulit, serta bagian tubuh yang berambut merupakan daerah favorit biang keringat. Sumbatan pada saluran keringat bisa juga terjadi karena serangan bakteri kulit dan penyerapan kembali keringat ke dalam kulit ari. Keringat yang meresap ini menyebabkan kulit ari mengembang dan menimbulkan penyumbatan. Atau, tak jarang juga akibat udara lembap menyebabkan keringat sulit menguap.

Pada bayi, sumbatan keringat mudah terjadi karena kelenjar keringatnya masih sangat peka, sehingga perubahan lingkungan sedikit saja akan membawa pengaruh. Penyebab lainnya berhubungan dengan faktor pakaian. Mungkin, sang ibu mengenakan bayinya pakaian yang kelewat tebal, saat suhu udara di luar sedang dingin. Baju itu mempersulit penguapan keringat ketika bayi merasa kepanasan.

Sementara itu, pada anak yang lebih besar, penyumbatan saluran keringat akibat resapan keringat, sering kali disebabkan oleh bahan baju yang tidak menyerap peluh. Misalnya, baju yang terbuat dari serat benang sintetis seperti nilon.

Biang keringat bisa dicegah dengan mendorong terjadinya pengupan keringat. Salah satu caranya adalah selalu memakaikan baju-baju yang terbuat dari bahan katun tipis pada anak. Selain itu, upayakan agar sirkulasi udara di dalam rumah cukup baik.

Cara lainnya adalah dengan berpola hidup bersih. Jagalah selalu kebersihan di rumah, termasuk kebersihan kulit si kecil. Segeralah mengeringkan kulitnya ketika anak berkeringat. Mandikan anak secara teratur dua kali dalam sehari. Gantilah baju si kecil sesering mungkin, begitu terlihat basah oleh keringat, khususnya setelah ia bermain dan pada waktu menjelang tidur.

Bila kulit anak memang cenderung mudah terserang biang keringat, hindari keadaan yang dapat merangsang keringat berlebihan. Lalu, jika anak sensitif terhadap suhu udara yang panas, ibu dapat mengadaptasikan (mengenalkan kondisi tersebut) secara bertahap, sejalan dengan perkembangan fungsi organ tubuhnya, termasuk kelenjar keringatnya pada jaringan kulit.

Keringat yang keluar secara berlebihan juga dapat terjadi saat anak terserang demam. Untuk menghindarinya, seorang ibu dapat memberinya obat penurun panas (antipiretik), seperti aspirin atau asetaminofen. Dengan turunnya demam si kecil, biasanya secara otomatis keringat yang keluar berkurang. Selama si kecil terserang demam dan mengeluarkan banyak keringat, jagalah agar bajunya tidak dibiarkan terlalu lama dalam keadaan basah. Sesering mungkin keringkan tubuhnya dan gantilah bajunya agar penguapan keringat pada kulit dapat berlangsung baik.

SEMAKIN KEBAL

Biang keringat bukan penyakit berat. Bahkan, banyak orang menggolongkannya sebagai gangguan kulit yang sepele. Hanya saja, gangguannya sangat menjengkelkan, yaitu sengatan rasa gatal yang bisa membuat anak rewel. Untuk mengatasinya, para ibu dapat mendinginkan kulit bayi dengan mengoleskan lotion calamin. Namun, sebelumnya pastikan dulu bahwa kulit anak benar-benar dalam keadaan kering, tidak lembap atau berkeringat.

Bila biang keringat juga menyerang si kecil meskipun pada musim hujan, sebaiknya tidak memakaikan mantel terbuat dari bahan wol. Untuk menghangatkan tubuhnya, lebih baik pilihkan baju-baju dari bahan katun yang dikenakan berlapis-lapis.

Rasa gatal mengengat juga dapat dikurangi dengan memandikan anak dengan air dingin, agar kulit tubuhnya sejuk dan segar. Kenalilah jenis kulit anak. Jika tergolong sensitif, hindari menyabuni bagian yang terkena gangguan, karena sabun bisa menimbulkan iritasi. Namun, kalau kulitnya cukup kuat, pakailah sabun khusus antibiang keringat.

Cara lain mengatasi biang keringat adalah dengan mengompresnya dengan larutan soda bikarbonat (1 sendok teh soda bikarbonat dicampur dengan secangkir air bersih) secara teratur. Bila peradangan cukup banyak, gunakan salep atau bedak yang mengandung zinc oksida dan vaselin putih. Atau, sebagai penggantinya, kita dapat menggunakan bedak yang mengandung magnesium stearat. Kedua jenis bedak ini berfungsi mengurangi iritasi dan membantu penyerapan keringat.

Sesuai pertambahan usia anak, ia akan semakin kebal terhadap serangan biang keringat. Bahkan mungkin, ibunya bisa lupa, sejak kapan persisnya anak berhenti menangis karena urusan biang keringat. Akan tetapi, jika biang keringat berkembang menjadi luka parah karena garukan dan lecet-lecet, sebaiknya segeralah berkonsultasi dengan ahli medis.

BEDAK GATAL

Biasanya para ibu akan memberi bedak tabur bayi di daerah yang terkena biang keringat. “Enggak apa-apa, kok, karena fungsi bedak, kan, untuk menyerap sisa kelembaban sehingga kulit jadi kering kembali,” kata Ari. Juga, tak usah khawatir kulit si kecil akan bertambah kering dan bersisik dengan digunakannya bedak tabur. “Tanpa diberi bedak pun, pada dasarnya kulit dengan biang keringat sudah seperti bersisik kasar karena bentuknya yang bintil-bintil kecil berisi air. Lagi pula, dalam waktu singkat juga akan dibuang bersama pengelupasan kulit karena letaknya sangat dangkal,” terangnya.

Bisa juga digunakan bedak khusus untuk mengatasi biang keringat yang dijual di pasaran, terutama bila biang keringatnya tetap membandel. “Bedak-bedak tersebut biasanya mengandung zat tambahan untuk mengurangi rasa gatal. Namun tak apa, karena prinsip pengobatan biang keringat hanya symptomatic atau mengurangi gejalanya saja. Selain itu, tentunya para produsen pun sudah memperhitungkan bahan-bahan yang aman bagi bayi.”

Adapun bahan tambahan yang biasanya digunakan untuk mengurangi rasa gatal biang keringat ialah calamine dan mentol. “Kedua bahan ini aman untuk bayi,” ujar Ari. Tapi tentu yang namanya individual cases atau exceptional cases pasti ada. Misalnya, bayi A ternyata tak cocok pakai bedak biang keringat. “Mungkin ia rentan karena usia yang lebih muda. Bukankah usia muda memang lebih mudah mengalami iritasi?” Nah, kalau sudah demikian berarti sudah menjadi tugas dokter.

Serahkan juga pada dokter bila biang keringat akhirnya menjadi infeksi sekunder yang biasanya kerap terjadi pada biang keringat tipe dua (Lihat boks Tipe Biang Keringat.) “Karena gatal, maka anak-anak kerap menggaruknya sehingga terjadi infeksi sekunder. Bintil-bintil yang berwarna merah tersebut akan berisi nanah,” tutur Ari. Biasanya dokter akan mempertimbangkan untuk memberikan obat antibiotik.

HATI-HATI JAMUR

Yang perlu diperhatikan, ujar Ari, jangan sampai orang tua keliru mengira biang keringat padahal sebenarnya jamur. “Ini sering terjadi, lo. Orang tua mengeluh, biang keringatnya, kok, enggak sembuh-sembuh. Sewaktu diperiksa baru ketahuan itu bukan biang keringat, melainkan jamur,” tuturnya.

Oleh karena itu, anjurnya, sebaiknya orang tua yang sudah mencoba obat-obatan biang keringat memperhatikan bentuk hasil uji cobanya. Apalagi, sering terjadi kulit bayi tetap tak membaik meskipun sudah dicoba berbagai obat gatal. “Sebaiknya bawa ke dokter terdekat untuk memastikan apakah benar biang keringat atau jamur. Karena orang awam mungkin sulit membedakan jamur dengan biang keringat. Mereka hanya lihat bintil-bintil merah. Tapi kalau dokter, pada umumnya dengan melihat sepintas bisa membedakan ini jamur atau biang keringat.”

Begitu pun bila bayi mengalami bruntusan merah di daerah kelamin. “Itu bukan biang keringat karena tak ada pengaruhnya antara BAK dengan biang keringat. BAK merupakan fungsi sekresi yang berhubungan dengan saluran kemih, sedangkan biang keringat adalah sumbatan kelenjar keringat,” terang Ari. Begitu juga bila bokong bayi mengalami bintil-bintil merah, “urusannya bukan pada biang keringat tapi lebih ke ruam popok.”

sumber : Nakita & Pikiran Rakyat

lina @ October 9, 2007

Leave a comment

*
To prove that you're not a bot, enter this code
Anti-Spam Image


Feed